Rabu, 21 Januari 2009

Perawatan Benda Pusaka Keris

Eyang Soedono Wonojoyo semasa hidupnya mempunyai banyak koleksi benda pusaka yang selalu dirawat dengan penuh kecintaan. Beberapa diantaranya berupa keris,yang sekarang ini mungkin berada di rumah keluarga KBSW.

Masing-masing orang memang mempunyai cara pandang tersendiri terhadap keris ini. Tapi secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu : yaitu magis atau psikis.

Nilai magis, keris pusaka dianggap sebagai sebuah rumah, dengan kekuatan supranatural sebagai penghuninya. Jika dirawat dengan baik, suasana dalam rumah dan diluar akan terlihat baik.dan asri sehingga membuat penghuninya betah dan selalu sehat. Namun sebaliknya, jika tidak dirawat, penghuninya tidak akan merasa nyaman,bahkan akan pergi meninggalkannya. Demikian juga dengan keris,bila tidak dirawat dengan baik, energi supranatural pada keris pusaka akan pudar bahkan hilang.

Sedangkan cara pandang psikis, keris hanya dilihat bendanya saja sebagai produk bernilai seni tinggi dan bisa dibanggakan. Hal ini dapat dimengerti mengingat cara pembuatannya yang sangat rumit yang bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai kemampuan jasmani dan rohani yang luar biasa.

Perawatan Keris

Urusan rawat-merawat keris pusaka memang bukan perkara mudah. Memerlukan waktu lama bagi seseorang perawat keris agar dapat merawat keris pusaka dengan baik. Intinya, harus mengetahui karakter keris pusaka serta mempunyai pengalaman dengan bahan-bahan utk merawat keris yang semakin lama semakin sulit didapatkan.
Walaupun sulit ditemukan, di kota Jakarta ada beberapa perkumpulan pelestari kebudayaan jawa yg menawarkan jasa perawatan keris. Perawat-perawat ahli ini biasanya mempunyai kesibukan yg luar biasa menjelang bulan Suro, yang menurut pemilik keris dengan cara pandang mistis, adalah bulan yang paling tepat untuk memandikan keris.

Akan tetapi ada tips sederhana yang dapat dilakukan untuk merawat keris yg bisa dilakukan oleh orang awam.
  1. Menghilangkan karat. Dg cara merendam benda pusaka dengan air kelapa. Apabila karatnya lumayan banyak, proses perendaman bisa memakan waktu hingga lima hari. Setelah proses ini selesai, keris kembali direndam dengan air jeruk. Kemudian keris dikeringkan dengan dedak sambil digosok untuk menghilangkan karat dan kotoran yang membandel.
  2. Membersihkan pori-pori. Dengan menggunakan air sabun dicampur jeruk nipis.
  3. Mengeluarkan pamor atau ukiran pada badan keris, dengan memberikan warangan, Cairan warangan ini dibuat dengan batu kristal khusus yang bahannya berasal dari Tiongkok. Setelah direndam warangan selama sekitar satu jam, proses terakhir yang dilakukan adalah mengolesi keris dengan minyak cendana. Barulah pusaka tampak kinclong dan keluar pamornya.

Penyimpanan Keris

Demikian juga dengan cara penyimpanan. Banyak kolektor keris pusaka meletakan begitu saja di atas lemari atau. Cara seperti itu kurang tepat, sebaiknya diletakkan dengan posisi tegak lurus, tidak boleh ditidur-tidurkan atau sengaja dipisah antara warangka dan pusakanya.

Demikian ulasan sederhana ini, semoga semakin banyak yang mencintai keris dan melestarikan benda-benda pusaka peninggalan leluhur kita, yang telah mendapat pengakuan internasional dari UNESCO ini.